Selasa, 03 November 2015

Sindoro I'm Back. Via Sigedang

Pengen banget mendaki bareng kawan-kawan sekumpulan, segang, segilaan. Akhirnya Agustus 2015 kita bisa mewujudkannya. Bermaksud ambil timing 17 Agustusan di gunung, dengan serakahnya kita menschedulekan Sindoro dan Prau dalam waktu 4 hari.
Kita berangkat bersepuluh dan ketemuan lagi seorang di terminal wonosobo jadi bersebelas orang. Dimana kita semua amatir. Hahahaha. Di kelompok kita terdiri dari 3 perempuan dan sisanya laki-laki. Di ketaui oleh Deni beranggotakan, Gue, adik gue (Ita), Linda, Epo, Luky, Cuong, Viky, Godel, dan Kutu, oh iya sama Ka Wisnu yang ketemuan di Wonosobo.
Tanggal 14 Agustus 2015 kita bersembilan berangkat dari pool Sinar Jaya Cibitung selepas maghrib. Dengan tarif Rp 100.000 kita meluncur menuju Wonosobo dengan tenang dan gembira.
Tanggal 15 Agustus 2015 kita sampai di terminal Wonosobo dan bertemu dengan abang gue (Ka Wisnu). Istirahat sebentar dan menambah perlengkapan yang kurang jam 8 pagi itu kita menuju desa Sigedang menggunakan angkot yang mirip Tiger kalo di Cikarang mah namanya. Dengan tarif Rp 300.000 kita di antar sampai ke depan basecamp Sigedang. Di Sigedang kita urus Simaksi, makan di warung ibu siapa ya lupa, ramah bangetlah pokoknya ibunya enak pula masakannya.

Jam 10.00 kita mulai perjalanan. Jalan kaki dari basecamp menuju kaki gunung. Jalanan berupa aspal karena memang masih jalan raya mobil-mobil lewat sana. Kalau ke Sindoro via Kledung kita bisa naik Ojeg sampai dengan POS satu karena jaraknya cukup jauh dan masih merupakan rumah penduduk. Kalau lewat Sigedang no Ojeg, kita jalan di jalanan aspal menanjak dengan kanan dan kirinya ladang kol, bawang, atau sayuran lainnya milik warga. Belum sampai tempat yang seperti trek di gunung kita sudah pada mulai gontai. Siang terik kita berjalan tanpa teduhan pohon-pohon, Debu dari kendaraan yang lalu lalang... Waaahhhhh ngenes banget Sigedang.
Dengan waktu satu jam akhirnya kita bisa juga masuk ke kebun teh, jalan mulai tanah berumput dan sedikit adem karena mulai ada pohon-pohon. Kita bertrekking ria dengan riang gembira meski sebenarnya lelah sudah mulai terasa. Namanya sama temen sendiri gak ada sungkan-sungkannya minta rest kalau udah mulai cape. Sampai akhirnya kita molor banget jam 12.30 baru sampai POS tiga. Padahal targetnya jam 12.00 kita sampai. Yasyudahlah ya ngaret 30 menit.
Di POS tiga Via Sigedang terdapat pendopo yang cukup besar, bis abuat tidur-tiduran dan terpenting bisa buat meneduh karena lewat Sigedang tu beda banget sama lewat Kledung yang hutannya lebat.





Di pos tiga ini kita gunain bener-bener untuk istirahat. Yang solat ya solat, yang tidur ya tidur, dan kit makan siang sebelum emalnjutkan perjalanan. Sekitar satu jam kita istirahat di sana. Ini kesalahan kita, masih di bawah jauh dengan tujuan dimana badan yang muali terbiasa dengan keadan justru kita istirahatkan total dan kelamaan. Jadilah saat kembali memulai lagi perjalanan lelah yang terasa menjadi 3 kali lipat. Huaaaahhh belum juga jauh dari POS tiga kaki sudah mulai gemetar, nafas sudah memburu dan keringat meluncur dengan derasnya. Tapi dengan teman kelompok yang solid kita teruskan berjalan melewati kebun teh dan mulai masuk kawasan hutan. Sejuuukkk. Trek yanga da berbeda denagn kledung yang di dominasi batu, jalur Sigedang justru tanah berdebu dan menanjak tiada ampun. Jarang sekali bonus trek.

Linda & Ita

Lewatin Hutan yang gak terlalu lebat namun cukup membantu mengurangi terik matahari yang terpancar. Kita berjalan bergantian, sering banget istirahat maklum beberapa dari kita ini adalah trekking pertama ke gunung. Kita berjalan santai bahkan sangat santai sampai akhirnya hari pun sore, sekitar jam 4 atau 4.30 hujan rintik-rintik mulai turun dan angin berhembus kencang-kencang. Tujuan kita di hari ini juga kita sampai di puncak. Kita galau terus jalan atau berhenti dulu pasang flysheet. Akhirnya kita putuskan pasang flysheet, kalau dapat tempat. Karena hujan yang mulai menderas tapi belum deras-deras banget jadi pendaki lainnya yang lebih dulu sudah menggunakan lapak yang ada. Jumlah kita banyakan jadi gak mungkin menumpang ke pendaki lainnya. jadilah kita terus berjalan sampai akhirnya hujan pun berhenti, namun anginnya masih kencang menerpa kita semua. Dalam keadaan yang terburu-buru itu jalan kita justru semakin cepat tapi tentu belum mencapai puncak. Akhirnya Adzan maghrib berkumandang, kita berhenti di entah pos berapa tapi sepertinya pos lima, kita tunggu sampai adzan selesai dan solat di tempat seadanya. melihat hamparan di kanan dan kiri yang terlihat awan cantik menggumpal.

Hari mulai menggelap, kita pasang headlamp masing-masing dan menerruskan perjalanan. Semakin tinggi pijakan kami semakin kencang angin menerpa. Sekarang bukan lagi puncak yang kami incar tapi lapak cukup luas untuk mendirikan 2 tenda. Tapi apadaya sampai dengan jam 7 malam itu kita belum menemukan lapak itu. Dengan penglihatan yang semakin berbatas dan oksogen yang semakin tipis satu persatu dari kami  mulai mengeluh lelah. Dan gue mulai ngerasa akan berakibat fatal kalau kita menersukan perjalanan. Angin benar-benar kencang, sesekali rintikan hujan jatuh. Gue sama Deni mulai lirik-lirikan "Kayaknya cuaca bakalan gak enak.". Akhirnya di jalanan yang terjal kita berhenti atur nafas sekaligus mengecek keadaan masing-masing kami. Gue sih ngerasa kita masih bisa jalan lagi, dan berasa puncak dikit lagi. Tapi Deni selaku ketua gak setuju sama pendapat gue.. haha. Akhirnya kita suruh nunggu, dia turun ke tempat aliran air, dengan gagah berani dia diriin bivak di abwah situ. Cukup lama dia beritual di sana, gue yang mematung tiba-tiba menggigil. Gue takut banget hypo, dan sepertinya gue Hypo. Dingin bangettt demi apapun ini bener-bener dingin, bertiga sama Linda dan Godel kita menggigil. Gue di peluk sama Ita supaya lebih hangat. Akhirnya bivak pun jadi, kita cewe-cewe di suruh masuk duluan. Kita masuk semua alhamdulillah. Tapi bener itu malam paling panjang yang perna gue rasain. Kita gak pada bisa tidur. Anginnya  kenceng banget, mungkin itu badai. Bivak kita ancur, entah kalau dari luar keliatannya gimana. Kita semua seperti di bungkus terpal. Saking desekannya alhamdulillah gue mulai menghangat. Tapi justru adik gue si Ita rewel. Dia kecapekan mungkin pengen tidr tapi gak bisa karena itu terpal nempel ke muka kita jadinya gak bisa nafas. Si Ita nangis "Mama, huhuhu bodo amat mbak gue gak mau lagi naik gunung. gue pengen pulang mbak. huhuhu" . Ahilah kasian banget adik gue satu-satunya itu. Di dalem terpal itu kita kaya di tampar-tampar, sakit banget. Anginnya semakin malam semakin serem aja. Cuman bisa berusaha mejemin mata dan berdo'a semoga pagi segera datang. Alhamdulillah terdengar suara orang mengaji dari masjid di bawah sana, mungkin subuh sebentar lagi. Si Ita memutuskan keluar bersama Godel dan Cuong. Gue masih di dalemselimutan pake sleepingbag,Mukenah, dan Sajadah. Gue berasa masih dingin, khawatir banget sama adik gue di luar ngapain tapi ni badan gak bisa gerak saking dinginnya. Adzan berkumandang, kelamaan mulai ramai lagi, ada beberapa orang yang mulai summit attack. Gue akhirnya keluar juga dengan masih melilitkan sleepingbag juga mukena ke badan. And crazy broo kalo di liat dari luar itu bivak kaya gak berpenghuni padahal semalam isinya 11 orang. Dan lagi, di depan itu Jurang, semalem kepeleset dikit wahhh wassalam kita. Alhamdulillah masih di kasih selamat.

Semburat Fajar muncul

Godel yang rada sarap buka baju padahal dingin parah.



Gunung Prau di seberang sana.

Ini penampakan bivak kita yang sudah roboh.

Fajar akhirnya menyingsing sempurna. Terlihatlah keindahan Indonesia Raya ini. Ini dia keunggulan ke puncak Sindoro via Sigedang, View'nya ajaib banget. Kereeennnn.... 
Bagi tugas, yang foto-foto ya foto-foto, yang masak sarapan ya masak. Setelah masakan siap, kita makan bersama. Dan Anehnya, setelah bivak kita benerin lagi, yang masuk cuman lima orang, naaahhh gimana ceritanya semalam kita bisa masuk semua? Lagi-lagi pertolongan Tuhan memang dimana-mana. Thanks god. Jam 7 pagi wkatu setempat, setelah perut kenyang dan semua sudah beres, Bivak juga sudah beres kita ganti mendirikan tenda. Tenda untuk menaruh barang-barang kita. Kita kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak Sindoro. Satu jam akhirnya kita sampai di Puncak. Alhamdulillaaaaahhhh
Sebelumnya gue ke Sindoro via Kledung dan gak muncak, Alhamdulillah kali ini dengan para pendaki-pendaki baru termasuk adik gue kita semua bis amenginjakkan kaki di puncak Sindoro. Allahuakbar.... Bersama kawan-kawan segilaan bareng,kita bisa muncak bareng, menikmati keindahan alam raya ini bareng, bersusah melawan badai bareng. Syukurku tiada tara untuk anugrah dari Tuhanku. Di atas tiada senyum menghilang dari wajah kita, terlebih ka Wisnu teriak-teriak kegirangan "Ahhh gila ini gila, Keren banget, Wuhuuu gak nyesel gue. Ajak gue lagi mbak kalo nanjak. Gila ini Gila Sumpah. INDONESIA LO CANTIK BANGET. GUE JATUH CINTA. ALLAH TERIMAKSIH ATAS SEMUANYA.".

Menuju Puncak

Gak full team. Tapi ini Kita.

Dihadapkan Gunung Sumbing.

Assalamualaikum Sindoro, Indonesiaku

Ini Indonesia kita tercinta, Indah tiada tara. Mari kita jaga keindahannya, Terimakasih Pahlawan-pahlawan yang telah bersedia mempertaruhkan nyama demi kita merdeka. :-) 
Dua jam kita menikamti puncak Sindoro kita putuskan untuk turun. Turun selalu asik, bisa berlari-lari kecil, prosotan, serulah pokoknya. Saking serunya kita jadi nyasar. Aduhhhhh.... Gue ngerasa jalanan yang kita lewatin aneh, kita gak pernah lewat jalan yang ada batu besar di tengahnya. Kita berhenti berdiskusi. Sebagian bilang ini benar dan sebagian lagi bilang salah. Dan gue termasuk yang bilang kita kesasar. Kebetulan tadi di jalan gue inget ngambil foto gunung Prau, untuk mematikan dimana posisi kita sebelumnya. Dannnnn Foto yang gue ambil untuk patokan itu gak ada yang jadi, putih semua. Aduuuhhh gue mulai mikir yang bukan-bukan. Dengan tenang, Deni menyuruh Epo dan Viky melanjutkan jalan liat apakah bener atau enggak, tapi jangan sampai teriakan gak kedengeran. Mereka berdua berjalan sambil berteriak-teriak dan akhirnya bilang "Kita nyasar bener nyasar. di abwah batunya semakin gede." Akhirnya Deni menyuruh mereka kembali ke tempat kita menunggu. Gue sedikit cemas. Iya sih emang dari di basecamp pak Amin juga udah bilang gak boleh bicara gak sopan, tapi kita emang dasarnya karena sama temen suka keceplosan gitu. Berdo'a dalam hati semoga di gak kenapa-kenapa. Deni nyari jalan, dia melipir entah kemana ke kanan membelah ilalang. agak lama dia balik lagi. "Ayo ikutin gue, yang betina di belakang gue. jangan becanda kiri kita jurang. jalannya melipir ya pegangan sama ilalang." . Astagfirullah, itu serem banget, kita bener-bener melipir di bibir jurang, jalan bener bertumpu sama tangan dan sepatu yang gak boleh licin. Dan yappp gue sempet kepleset untung Godel berhasil megang gue. Alhamdulillah kita sampai juga ke jalur seharusnya. Tapi kita gak tau dimana tenda kita, sama pendaki lain yang turun kita minta tolong untuk di liatin kali melihat tenda kita supaya di teriakin. Tadinya gue usul mencar ada yang ke atas dan ada yang kebawah. Tapi lagi-lagi di tentang, kayaknya Deni punya perasaan gak enak sama kaya gue. Kita semua jalan perlahan ke atas, dan pendaki yang turun teriak "Woiii bang ketemu nih tenda luu. turun turun.". Alhamdulillaaahhhh. Kita turun menuju tenda. Berterimakasih banget sama abang-abang yang nemuin tenda kita. Kita lega banget dan masak lagi siapain energi buat turun.
Jam sebelas siang kita turun, kali ini perjanjian jaga bicara dan lebih ahti-hati. Viky penunjuk jalau dan Deni penutup jalur. Kita turun lebih sepi dari sebelumnya, dan kembali pecah ketika Kutu mengentut dengan baunya. jadilah kita turun dnegan terus tertawa dan saling meledek satu sama lain. Dan sampai dengan maghrib kita baru masuk hutan lamtoro. Luky yang strong tiba-tiba jadi murung dan sering melempar tasnya. Ternyata kembali kita melewati jalur yang tidak seharusnya. Entah bagaimana, perasaan kita mengikuti orang yang turun lainnya tapi kita malah tersesat. Kita kembali lagi berdiskusi. Deni sudah kepayahan kali ini. Terpaksa mereka mengikuti saran gue untuk terus lanjut. Toh ini turun yang terpenting kita turun saja terus pasti sampai ke desa. Pikiran sudah ngalor-ngidul teringat berita duka yang sempat terjadi di gunung ini. Dengan terus ber'do'a di hari yang semakin gelap, kita mulai memakai Heaadlamp. Akhirnya kita bertemu dengan pendaki yang hendak mendaki. Darinya kita benar-benar mencerna petunjuknya untuk turun. Target kita kembali berubah dari sebelumnya sampai di Basecamp kali ini kita memburu POS tiga. Linda mulai kepayahan, langkahnya sering sekali terhenti, tersandung, dan terpeleset. Energi kita semua sudah benar terkuras. Linda jatuh pun dari sebelumnya bisa membantunya berdiri, sekarang hanya bisa "Gapapa kan nda? pelan aja, kakinya miringin.". Dan Linda pun semakin drop. Kita sepakat mendirikan tenda di POS tiga dan Prau kita batalkan. Jam 8 malam kita sampai juga di POS tiga. Bergegas bangun tenda untuk Linda  segera istirahat. 3 tenda kita dirikan, tidak mau sia-sia berat-berat bawa tenda masa gak di bangun. Kita masak sop yang di masak adik gue, lahap semua itu sop terenak yang pernah kita makan. Mungkin kalao makannya di rumah bakalan berasa biasa aja. Kita bermalam sekali lagi di Sindoro, Dinginnya masih sama. Akhirnya kita bisa tidur nyenyak, dengan badan lurus dan di balut sleepingbag. 17 Agustus 2015 di POS tiga gunung Sindoro kami terbangun dan terkagum dengan pemandangan Sigedang ini.

 Matahari 17 Agustus 2015, Sigedang MT. Sindoro.

Mari Sarapan.

Tidak buang waktu lama, kita sarapan pagi itu menghabiskan semua perbekalan yang tersisa. Selesainya kami muali membereskan tenda dan semuanya. Kita turun denagn menumpang mobil pick up warga yang memanen tembakau dengan biaya seikhlasnya.
Syukur tiada terkira saat berhasil turun dan menginjakkan kai di rumah pak Amin. Kami berhasil selamat.
Dari sekian perjalanan kami kami jadi banyak bertukar pikir, apa kiranya yang membuat kita nyasar beberapa kali. Usut punya usut ternyata si Epo memetik sebuah tumbuhan di atas entah apa yang dimaksud, dia ingin membawa tumbuhan itu pulang, cantik si katanya. tapi sudah di baung di hutan lamtoro. Pelajaran yah temen-temen, Kalo sudah di bilang "JANGAN" ya jangan, lagi pula sebaiknya kita jangan ringan tangan untuk merusak keindahan yang ada. Sebelumnya padahal hal-hal seperti ini sudah kita beritahukan dan sudah di buat perjanjiannya. Tapi yaa mungkin kawan saya ini khilaf. Tolong di maafkan ya... 
Alhamdulillah kami semua selamat sampai kembali lagi ke Cikarang tercinta, dengan tidak lupa mencicipi Mie Ongklok yang memang ngangenin. 

See U nesxt trip :-)



Senin, 02 November 2015

Tak Selamanya ke Gunung itu "Muncak"

Sebenernya ini postingan lama, tapi berhubung tulisan saya ini diikutin lomba dengan persyaratan gak boleh masuk web mana pun jadi saya hold dulu untuk posting di blog sendiri. Berhubung lombanya sudah berakhir dan saya gak menang.. hehehe jadi saya coba publish my special journey ini.

Berawal dari lihat kalender ada tanggal merah yang bisa liburnya nerus, kita bertiga berencana asal rencana. Oia kenalin dulu kita bertiga namanya saya Anis, Teman saya yang selalu dijadiin tumbal Eko Deny, dan teman saya satu lagi yang hobi kentut si Bakti biasa kita panggil Bakso. Nah kita bertiga emangnya pecicilan gak bisa liat tanggal merah dikit langsung bikin rencana ke sono ke sini kucrut. Nah tanggal 14,15,16 Mei 2015 kemarin kita berencana mau habisin liburan untuk nanjak.
Rencana awal kita mau nanjak Pangrango tapi gagal dapat SIMAKSI, di tawarin calo biar dapet SIMAKSI kita nolak (Sok jadi anak bener). Oke belok deh ke gunung lainnya yang masih di Jabar karena gak berani jauh-jauh, Ciremai. Sampai dengan tanggal 12 Mei 2015 jam 18.30 Ciremai masih jadi pilihan kita. Sampai akhirnya jam 18.00 kita rapat di rumah saya cari-cari tau bagaimana caranya kita bisa sampai sana. Kita buka blog orang yang salah. Poor us. Blog-nya isinya ngeri banget, ahhhh Ciutlah nyali kita. Kita amatir, Belum pernah ke Ciremai, Cuman bertiga, Oke Batal batal.
Deny bilang kalau teman-teman kampusnya besok juga mau nanjak ke Sindoro di Wonosobo, Jawa tengah. Kembali menimbang-nimbang, Jauh banget ke daerah Jateng belum lagi baru kemarin-kemarin ada berita duka di gunung itu. Tapi kalau gak jadi berangkat gak mungkin karena preparation kita udah 110% sayang banget kalau gak jadi. Oke dengan keyakinan penuh dan Tekad yang kuat kita kontak temennya Deny untuk ngabarin kita mau ikut.
Besoknya sepulang kerja saya langsung casciscus. Selepas maghrib berangkat, soalnya kata Bakti yang kita utus untuk cari tiket, bus berangkat jam 18.00. Sinar jaya dan rumah kita deket palingan 15 menit, Tapi kita gak dapet tiket kalah sama orang-orang yang mau mudik.
Oke jam 19.30 kita masih gak dapet mobil, kita cuss ke terminal kp. Rambutan. Sama gak dapet mobil yang di maksud, akhirnya kita ketemu rombongan yang mau ke gunung Sumbing dan mereka naik bus Dewi Sri. Oia di sini kita berangkat cuman bertiga, temen-temennya Deni berangkat dari sore. Akhirnya kita naik bus Dewi Sri ke Purwokerto (Rp 60.000) tipe Ekonomi. Jam 23.00 bus berangkat. Entah perjalanan kita kenapa ada saja hambatannya. Di daerah Tegal bus kita pecah ban. Ya Alloh tolong. Kontek temennya Deny mereka sudah sampai terminal Wonosobo jam 10.00 dan kita masih di Tegal, pecah ban. Oke10921640_486618151492118_7534532732667870083_o nikmatin. Bus jalan lagi, lumayan lancar bisa tidur lagi. Bus berhenti lagi sampai matiin mesin. Ternyata di depan jauh di sana ada Bus pariwisata yang as rodanya patah (Kok bisa?).
Gile itu kita di Banyumas panas banget dan naik mobil Ekonomi desek-desekan. Saya jadi berpikir apa gerangan yang membuat perjalanan ini begitu pilu.. Hiks hiks padahal dari sekian perjalanan saya, ke Sindoro ini yang paling di restui mama saya yang susah banget ngelepas putri pertamanya ini ke alam bebas. Hiks Hiks. Hampir satu jam bus berhenti kita turun naik bus ngelepas penat dan panas, sempat terpikir pengen jalan ngelewatin kemacetan setelah itu kita naik ojeg atau angkot gitu ke terminal purwokerto tapi…
“Kamu mau bayar ojeg Rp 500.00 sampai terminal Purwokerto?” Bapak-bapak bilang gitu ke saya saat saya mengutarakan keinginan saya ke teman-teman saya. Saya terbengong-bengong, kirain kan dikit lagi bang, kan saya gak tau ya masih polos. Hee . Yasudah kita bertahan di dalam bus dengan kaos lepek karena keringat. Bus jalan lagi, 2 jam kemudian barulah kita sampai di terminal Purwokerto. Alhamdulillah. Jam 12.50 kita sampai dan bus yang bisa nganter kita ke Kledung (Rp 35.000,-) akan berangkat jam 13.05. Oke kita gak sempat makan dulu, cuman bisa beli nasi putih 2 bungkus dan Aqua aja. Udah nih ya jalan, hati udah gak sabar banget pengen segera sampai dan nanjak. 1,5 jam jalan lancar tiba-tiba berhenti total, ternyata di depan ada truk yang amblas. Puter balik itu bus akhirnya kita lewat jogja dulu. Ya Allooohhh helep.
Alhamdulillah pas maghrib kita sampai di desa Kledung. Sampai langsung ngurus SIMAKSI (Rp 7.500,-) solat, makan nasi goreng enak di warung depan basecamp, dan Bismillah. Tadinya kita bertiga pada saat ngurus SIMAKSI kita ketemu sama a Martinus dan a Wawan. Mereka ngajakin nanjak bareng, dan kita mau banget. A Tinus dan a Wawan keliatan banget gitu dah pro di lihat dari tasnya yang bener-bener kaya kulkas satu pintu. Jam 20.00 kita berangkat, naik ojeg dulu sesuai saran dari mas-mas yang ngurus SIMAKSI. Naik ojeg Rp 15.000,- sampai POS 1. Naik ojeg kita melewati rumah-rumah warga dan ladang kol, itu jauh banget dan ojegnya bawa motornya kaya orang kesetanan. Oke berdo’a bersama terus kita mulai pendakian.. yeayy
Awal-awal masih terasa asik. Bahu belum begitu terasa sedang membawa bawaan, Sepatu masih nyaman, Masih semangat bercanda-canda apalagi pas Bakti mulai mengeluarkan kehandalannya dalam mengelola kentut. 1 jam berjalan tanpa Istirahat dan masih berbincang-bincang asik. Akhirnya kita break minum dan instirahat sebentar, kita matiin headlamp dan menengadah ke langit, WOW Bintangnya banyak banget. Saya speechless pengen berehenti lama-lama di sana, tapi teringat tujuan dan motivasi kita POS 3.
Dimana di POS 3 temen-temennya Deny sudah mendirikan tenda dan memang perjanjian kita ketemuan di POS 3. Kita gak tau udah dimana, kan gelap yaaa… jadi kita masih asik aja gitu jalan di jalanan tanah yang asik karena abis di guyur hujan, dan Pohon-pohon tinggi di sekelilingnya. Baru kali ini saya menanjak malam hari, seru juga. Jalanannya kadang landai kadang naik turun kaya bukit gitu, asik banget deh. Sampai akhirnya kita sampai di POS 2 dan sudah ada 2 tenda di sana. Kita istirahat 15 menit di sana masih asik ketawa-ketawa bercanda riang gembira.
Dari POS 2 penampakan langit malam Wonosobo cihuyyy banget… susah di jelasinnya. Kita lanjut jalan lagi mulai tanjakan dan batu-batu besar. Oke Cobaan kayaknya, saya minum dulu yang banyak siap-siap tempur. Oke perlahan tapi pasti kita bisa melewatinya. Tapi kelamaan tanjakan semakin sadis aja dan batunya mulai besar-besar. Idiihhh parah deh baru saya merasakan yang begini. Mulai turun stamina, jadi sebentar-sebentar minta break. Saya mulai minta lihat peta ingin tau kita sudah dimana dan kira-kira berapa lama lagi sampa11091000_486619161492017_1624873281182206617_oi POS 3. Kalau pakai perhitungan sih deket tinggal ngelewatin semak belukar kita sampai POS 3. Oke saya lihat sekeliling tinggal rumput-rumput liar yang tumbuh di pinggiran trek, mungkin ini yang dinamakan semak belukar.
“Oke berarti sebentar lagi ya.. ayo deh.” Saya menyemangati diri sendiri.
Kita kembali lagi berjalan. Bener-bener deh tanjakan dan batu-batunya itu loh… oh my Alloh… Dengan sisa tenaga yang dipunya, kita terutama kami bertiga nanjak sampai yang merangkak, meluk batu atasnya, ah pokoknya wow banget. Kita jadi sering istirahat. 10 menit jalan 5 menit break. Bener-bener saya sudah mulai kepayahan terlebih lagi si Bakti. Tiba-tiba Bakti mengeluh pusing. Saya yang mulanya kepayahan jadi panik. Kita berhenti membiarkan Bakti tiduran sebentar semoga pusingnya hilang. Saya kelelahan plus waswas takut Bakti vertigonya kumat. Tanjakan masih gak ngasih ampun. Lagi-lagi gak tau kita sudah dimana, saya sama Bakti minta break sebentar. Berbarengan saya dan Bakti menengok ke keatas melihat trek berharap segera melihat tenda. Tapi apa yang kita lihat? Tanjakan terjal dengan batu-batu besar yang sangat tinggi, mungkin kemiringannya 70 derajat. Gileee saya dan Bakti drop…
“Engak-enggak. Gak Sanggup gue, Pala gue pusing. Tinggi banget itu. Bikin tenda di sini aja.” Bakti duduk melepas carrielnya.
Saya sebenarnya juga Drop dan bertanya-tanya dalam hati “Sampai kapankah tanjakan ini berakhir?”. Tapi melihat Bakti yang hampir give up gitu gak tega sama yang lainnya kalau saya tambahin ngeluh. Saya lihat sekeliling batu semua dan itu tanjakan, hello mau bikin tenda gimana modelnya coba?. Dengan bujukrayu sebisanya akhirnya Bakti mau lagi melanjutkan perjalanan. Kita akhirnya nanjak juga tuh tanjakan sarap. Kita bahu membahu saling tarik-tarikan untuk naik, merangkak lagi dan saling memberi support untuk bisa segera melewati tanjakan itu. Agak susah payah, sepertinya kita sudah melewati tanjakan sarap itu. Kembali lagi kita mendapat tanjakan dan batu-batu tapi lebih manusiawi ini tapi POS 3 masih juga gak keliatan. Beneran kalo di liat di peta tuh deket banget deh.
“Tuh ada suara orang kayaknya udah mau POS 3 tuh. Yuk yuk “ a Tinus nyemangatin kita.
Kita bener semangat dengan sura-suara itu. Tapi ternyata masih juga gak sampai-sampai dan malah suaranya menghilang. Bakti kembali lagi minta mendirikan tenda di trek tanjakan berbatu gitu. Akhirnya kita bujuk lagi lebih ekstra, dan Alhamdulillah kita ngelihat tenda-tenda. Semangat kita melanjutkan perjalanan. Kaki saya akhirnya menginjak POS 3 “Alhamdulillah” dan Bressssss ujan turun. Ya Alooohh apalagi ini.
Saya teriak-teriak mencari temen-temen Deny yang sudah mendirikan tenda disana, bermaksud menitipkan Bakti yang tepar. Bakti sudah sedakepan di pinggir batu cukup besar di POS 3 dengan jas hujannya. Deny, a Tinus dan a Wawan berusaha mendirikan tenda. Saya teriak-teriak tanpa hasil. Oke, Bakti anda harus bertahan. Tenda berdiri tapi banjir dalamnya, di bersihin dulu. Sudah bersih hujan pun berhenti. Cakep. Bakti langsung masuk sleepingbag, saya juga mulai kedinginan, Deny, a Tinus dan a Wawan megobrol entah ngobrol apa karena saya tertidur. Tiba-tiba nyium bau otak-otak, saya bangun. Ikutan a Tinus dan a Wawan bikin sop untuk si Bakti, dan Deny gantian tidur. Sop udah jadi tapi si Bakti gak mau bangun yaudah kita makan bertiga. Jam 3.00 saya keluar tenda duduk di sampingnya… Oh my Alloh thanks for this moment.
Saya melihat bulan bulat sempurna dan dikelilingi bintang-bintang kemarlap-kemerlip seolah sejajar dengan posisi saya duduk, tidak lagi harus mendongak untuk melihatnya. Sayang saya tidak keluar membawa kamera dan malas untuk bergerak mengambilnya, jadilah saya nikmati sendiri. Tak lama penghuni tenda sebelah keluar, kita jadi mengobrol sambil minum coklat panas bersama dan memandangi bulan indah di Wonosobo. Perlahan tapi pasti bulan dan bintang pun menghilang, samar-samar saya mendengar ada yang mengucapkan nama temannya Deny "Modo". Saya bangunkan Deny untuk mengecek, dan ternyata benar itu kawannya. Mereka menghampiri tenda kami sekaligus menengok Bakti yang masih di dalam sleeping bag. Jam 5.00 a Tinus dan a Wawan pamitan karena akan memburu sunrise di puncak Sindoro. Saya mupenggg aahhh ngiri ngiri ngiri pengen ikut. Tapi saya urungkan setelah melirik ke tenda ada Bakti di sana.
Akhirnya saya, Deny, dan kawan-kawan Deny yang berjumlah 8 orang itu menikmati sunrise di POS 3. Indah juga lohh, Gunung Sumbing terlihat kokoh di seberang sana, Awan putih menggumpal indah, Tawa-tawa dari para pendaki di POS 3 yang muali berfoto-foto dengan sang primadona, Matahari Terbit.
Alhamdulillah cuaca cukup cerah sehingga kami bisa menikmati itu meski tidak di puncak. Jam 7.00 kawan-kawan Deni meninggalkan kita, karena mereka memburu puncak Sindoro. Lagi-lagi rasa iri dan sedikit kesal timbul. ‘Kenapa sih si Bakti segala sakit?’ Itu penyataan egois dari dalam hati, sempat niatan meninggalkan Bakti sendiri di tenda. Tapi urung setelah mengingat di POS 3 ini babi hutannya banyak berkeliaran dan ganas-ganas. Terbukti tenda kawan-kawan Deny robek karena di terjang babi hutan yang besarnya sebesar anak sapi. Oke saya dan Deny sepakat tidak muncak, kita tunggu Bakti baikan dan kemudian turun. Muncak kan bisa kapan-kapan lagi tapi kalau sahabat apalagi sekocak Bakti cuman satu, kita gak ikhlas kalau dia nanti di culik Babi. Heee. Lagipula tujuan naik gunung adalah kembali dengan selamat bukan? Dan Puncak adalah bonus?. Oke Sindro I’ll be back for your TOP. Amin.


Jam 1 siang setelah kita makan, kita prepare untuk turun. Kita turun bertiga saja karena a Tinus dan a Wawan juga tkawan-kawannya Deny belum kembali turun. Di perjalanan turun kita heppi bahkan sampai lari-lari kecil. Dan yang saya juga Bakti cari, dimana itu tanjakan sarap yang semalam hampir mematahkan semangat kita. Sampai POS 1 kita tidak bertemu dengan tanjakan itu. Kemana gerangan? Ah Tapi yasudahlah yaaa yang penting kami bertiga turun dengan selamat Bahagia dan tidak kekurangan satu apapun kecuali puncak Sindoro.T__T
Kita bermalam lagi di kledung tapi di basecamp karena kemalaman dan sudah tidak ada bus ke Jakarta. Besoknya jam 7 kita berangkat dari Kledung ke terminal Wonosobo memburu bus Sinar jaya. Dan kita dapat Bus ke Bekasi dengan waktu keberangkatan jam 16.00 seharga Rp 100.000,-. Sambil menunggu jam 16.00 kita ngobrol-ngobrol di terminal dan bertemu dengan pedagang Mie Onglok. 
Serius mienya enak banget harganya Rp 10.000,- dan rasanya bikin kangen. Kalo ke Wonosobo wajib coba. Perjalanan pulang lancar, kita sampai Bekasi jam 5.00 . Alhamdulillah.

Jumat, 05 Juni 2015

Cikuray Kaulah Pertamaku

Sebenernya ini perjalanan gue hampir setahun lalu, tepatnya tanggal 14 Nopember 2014. Berawal dari Deni yang cerita kalau dia ada rencana mau nanjak gunung bersama teman-teman kampusnya. Gue yang emang udah dari dulu, duluuuuu banget kira-kira dari SMP lah dan sekarang gue udah kerja, gue pengen banget yang namanya nanjak gunung. Tontonan gue tu semacam Jejak Petualang, Bolang, apaan lagi tu ya yang pembawa acaranya orang bule (Lupa udah lama kan.), Ya gitu-gitu lah pokoknya. Gue ngefan berat sama Riani Djangkaru, pengen banget kaya dia tu, tapi gak bisa... haha. Dulu waktu SMP pengen buru-buru SMA biar ada ekstrakulikuler Pecinta Alam, biar bisa nanjak gunung. Baru juga ngasih selebaran untuk ijin orang tua masuk tu ekstrakulikuler langsung aja si mamah cuap-cuap "Gak, gak pake pecinta alam-pecinta alaman. Nanti ke hutan-hutan, hilang kamu. udah olahraga aja sana." . Polos kan gue waktu itu gak berani ngelawan apalagi nakut-nakutinnya ilang, yaudah gue pindah ekskul.
Nah kan sekarang udah gede ni, udah cari duit sendiri juga pengen banget kan gue. Pas Deni bilang ada rencana itu mula-mula gue cuman ngiri aja kan. Setelah seminggu lagi hari H, gue bilang Deni "Gue ikut dong." dan di oke-in sama dia tapi dia ingetin gue buat ijin dulu. Dan gue gak berani ijin... hahahaha

Akhirnya pelan-pelan gue berusaha ngode mamah gue kalo gue mau nanjak. Satu-satu gue siapin perlengkapan boleh minjem temen kantor terus gue taro ke kamar. Sleepingbag, Carrier, dan Tenda. Sleepingbag, Carrier bisa gue umpetin di kamar, terus gue beli jaket tebel, Buff, Baju anget, dan yang kecil-kecil deh bisa gue umpetin. 2 hari menjelang hari H tenda gue bawa pulang sambil do'a yang banyak. Sampe rumah mamah gak ada lagi main volley, Syukurlah. Tapi ini gak mungkin gue umpetin lagi, yaudah saatnya gue minta restu. Hahahah sambil dag dig dug. Mamah gue pulang langsung nanya "Ini apaan sih?" yaudah gue jawab itu tenda untuk nanjak gunung lusa sam Deni, Bakti, Zulfa dan teman-teman kampusnya. Deni, Bakti, Zulfa, dan gue udah temenan dari kecil jadi ortu kita udah saling kenal. Mamah gue percaya lah kalo kita main bareng-bareng udah apal watak kita semua. Oke mamah gue sewot dan menentang gue abis-abisan buat nanjak apalagi posisinya gue bakalan jadi cewek sendiri di tim nanjak nanti. Gue gak berani balikin omongannya nanti kualat. Udah aja pas bapak gue pulang kerja gue ngobrol sama bapak di depan mamah gue, gue jabarin persiapan gue yang udah inih onoh inih onoh kucrut. Bokap gue yang dulu waktu masih mudanya pernah nanjak 2 gunung doang tapi, justrus emangat ngajarin gue "Nanti di gunung jangan begini harus begitu... blalalala" Gue seneng banget. Hahahaha mamah gue manyun aja dengerinnya.
Hari kamis gue masih masuk kerja dan malamnya cuss berangkat dari Pasar induk cibitung. Masih di kantor bapak udah nelponin mulu ingetin gue jangan lupa bawa senterlah, jangan lupa jaketnya, dan segalanya. Semangat banget gue hari itu berharp cepet pulang kantor terus cuss.
Jam 9 malam di hari Kamis itu gue sama Bakti udah standby di rumah Deni, Keren banget kita bawa tas gede-gede. Hahahaha kayak orang bener. Tapi sampai dengan jam 11 malam temennya Deni belum juga calling kalau mereka udah sampe. Jadilah kita jam 12 malem baru cabut ke Pasar Induk Cibitung. Di sana kita nyari truk yang bisa bawa kita ke Garut. Kereennnn ke Garut naik truk,,,, haha norak banget gue.
Jam 1 malam dengan riang gembira, Desak-desakan karena truk sayur ukuran kecil di isi 15 orang di boksnya, dan Angin malam yang menerpa ganas kita meluncur ke Garut menuju Cikuray dengan Rp 25.000,-. Bismillah
Jam 5 subuh kita berhenti di depan masjid yang cukup besar tapi gak tau apa nama masjidnya. Kata supir truknya kita suruh jalan sedikit ke terminal yang katanya sebentar lagi. Kita kebingungan harus kemana dan gimana, Karena gak ada tanda-tanda keramaian dari yang di tunjuk abang truk tadi. Kita semua solat dulu di masjid itu, selesai solat ada bapak-bapak sepertiny marbot masjid yang nyariin sandal jepitnya yang ternyata di pake si Banteng. Sebelum Bantengnya dateng dan nyerahin sandal jepit tu bapak-bapak gue sama 2 orang temennya Deni ngobrol sama bapak-bapak itu nanyain arah dan kendaraan untuk ke Cikuray. Selesai solat semuanya, Modo sam Ridho ngabarin kalau kita dapet carteran mobil pick up untuk ke Cikray Rp 300.000. Oke kita menuju ke TKP, benahin barang-barang biar kita bisa masuk semua. Sebelum berangkat kita ketemu ibu-ibu cantik asli Garut   jualan nasi kuning yang kelak jadi perbincangan hangat di bibir para laki-laki rombongan gue ini, Kita nyarap dulu. Oke gak buang-buang waktu kita segera berangkat menuju Cikuray. Hari jum'at pagi di kota Garut beda banget sama Bekasi apalagi Jakarta, Udaranya segerrrr banget. Apalagi pas udah sampai di kaki gunungnya, Beuhhhhh. Satu jam lebih kita di mobil dan mulai menanjak, ajibbb kanan kiri pemandangannya kebon-kebon milik warga yang hijau segar, dongak ke atas liat puncak Cikuray yang lancip cihuyy. Puncak Papandayan juga keliatan, Dinginnya udah beda. Lagi asik-asiknya nikmatin perjalanan tiba-tiba mobilnya batuk. Dan dan berhenti. Kita turun semua, dna gue gak boleh turun suruh tetep di dalem, cowok-cowok pada dorong mobilnya. Jalannya memang semakin nanjak dan berliku, keliatan pos pemancar masih jauh bingit. Alhamdulillah mobil jalan lagi, dan kembali lagi terbatuk dan berhenti, dan kembali lagi kawan-kawan lainnya mendorong. Tapi yaaa beginilah ya kalau sama teman-teman mau sesial apapun justru jadi asik dan menyenangkan. Mereka gak capek tu bolak-balik dorong mobil, malahan ketawa-ketawa, gue yang di dalem jadi ikutan ketawa padahal gak tau apa yang mereka ketawain. Akhirnya sampe di POS registrasi dan bayar Rp 10.000 /orang. Sambil nunggu mereka registrasi gue duduk di sebuah gubug kosong di samping POS registrasi, pada saat itu cuman kita yang mendaki beluma da yang lainnya. Gue masih terus bertanya gak percaya dalem hati "Serius ni gue nanjak?? Ya Alloh terimakasih banget." Tiba-tiba da ibu-ibu pemetik teh nyamperin " Bade nanjak neng? Ulah iseng nya, mugi selamet, hatur nuhun neng nya." Kurang lebih begitu deh, gue salaman sama itu ibu-ibu sambil jawab sebisa gue. Gue santai aja, seneng banget ketemu sama penduduk lokal. Selesai registrasi kita nanjak lagi dengan mobil karena pemancar masih jauh. Dan mobil kembali mati. Oke kita gak tega sama si mamangnya, akhirnay kita putusin berhenti di tempat mobil mogok dan melanjutkan ke pemancar dengan berjalan kaki.  Pas mobil si mamang udah nyalah lagi dan bisa puter balik, si mamang turun lagi dan minta maaf ke kita keran gak bisa nepatin janjinya untuk nganterin sampai pemancar, Bagus banget orang kayak gini.

Ini belum mulai katanya tapi jalanan udah menanjak dan gue kecapekan berat. Perdana dan gue gak prepare fisik apapun, Nyesel. Sampe ke pemancar geu langsung tiduran di jalanan pelur yang ke pemancar TVRI. Minum aja kayaknya kurang mulu. Di POS Pemancar yang sekaligus POS satu itu ada warung dan toilet juga. Di sini titik terakhir kita bisa menampung air sebanyak-banyaknya. Satu jam kita istirahat di situ sekaligus melengkapi logistik kita. Jam 10 pagi itu kita mulai melakukan pendakian... Yeayyyy.
Awal pendakian langsung nanjak, gebleg banget. Kita ngelewati kebun-kebun teh cantik dan jalanan masih menanjak. Gue mulai capek padahal warung tadi aja masih keliatan... poor me. Zulfa nawarin gue tukeran tas. Dia yang emang udah sering nanjak dan agak pea ke gunung cuman bawa baju sama jacket, coklat dan 3 aqua ukuran sedang nuker tasnya sama gue. Gue beruntung banget jadi abwa bawaab enteng gini. Nanjak lagi, dan gue capek lagi terus di kasih gula merah sama modo. Itu ngebantu banget. Gue nanjak lagi, dengkul gue mulai lemes. Amit-amit masih di trek yang sama loh masih di antara kebun teh gue udah sepayah itu. Bolak-balik gue minta rest sampe akhirnya mulai masuk ke dalam hutan. Agak enakan karena adem, jadi gak terlalu seganas tadi. Tempo break gue berkurang dikit, tadinya 20 langkah breaknya 3 kali sekarang jadi 2 kali lumayan kaaannn. Tapi lama-lama makin ganas lagi gue jadi 10 langkah istirahatnya 3x. Gebleg nanjak gunung gini-gini amat yak. Mana minum harus di irit-irit karena gak ada lagi mata air.
POS dua jauh banget gak sampe-sampe. Untung ada juga temennya Deni yang pendaki baru jadi ada temennya buat gue minta istirahat. Bener deh sering banget kita istirahat. Karena ada yang udah sering annajak dan gak nyaman sama tempo kita yang lelet jadilah kita jadi tiga bagian. pertama Ridho, Ucul, dan Firman nanjak duluan biar cari lapak dan nginfo kalo udah deket sama POS dua, kedua Gue, Deni, Anto, Acil, Indra dan Anjar  yang sebenernya kita di sini yang udah payah-payah, dan ketiga Modo, Banteng, Bakti, Zulfa, Jhon dan Bang Blay yang bertugas mastiin tim kedua masih ada dan gak tersesat. Dasarnya tempo tim dua yang emang lelet ujung-ujungnya gabung lagi sama tim tiga.. hahaha



Istirahat lagi dan lagi.. hahaha.

Perut mulai lapar, yang lain pada ngeremes indomie, Gue gak berani makan takut karena belum masuk nasi, Backpakernya nanggung yeee. Dengan halau rintangan khas Cikuray yang ajibbb, akhirnya kita sampe juga di POS dua jam 1 siang, tim pertama udah tidur di sana, songong banget. Gue sebagai pemula berpikir POS dua itu ada sebuah bangunan yang bisa buat kita istirahat atau tidur-tiduran gitu. Ternyata yang dinamakan POS dua itu hanya sebuah tanah datar yang gak terlalu luas palingan bisa diriin 4 tenda di sana. Kita yang kecapekan jadi ikutin yang tim 1 pada tidur deh di sana. Bener-bener tidur beralaskan matras dan beratapkan pohon-pohon besar. Ajibbbb.  Gak kerasa udah jam 2 siang, gue kebangun liat jam kaget euy belom solat. Kita solat dulu tuh, abis itu mulai nanjak lagi. Kali ini posisinya berbeda. Ridho, Firman, Modo dan Banteng jalan duluan, di susul Anjar, Anto, Bang Blay, Indra, dan Acil. Terakhir yang paling lelet beres-beres dan belum pada pake sepatu jadi di tinggalin cukup jauh ada Gue, Deni, Ucul, Jhon, Bakti, dan Zulfa. Nanjak lagi dengan stamina baru itu semangat banget dan enjoy banget. Tapi lagi semangat-semangatnya tiba-tiba bau hujan, tau kan bau hujan tu gimana.
Dan yaaa Hujan pun mulai turun, tadinya kita masih maksain jalan tapi hujan malah maikin deres. Akhirnya kita berenti di pinggir pohon besar dan teduhan pake matras yang ada di luar tas. kita berenam desek-desekan di bawah satu atap yang sama. Akhirnya dengan bergantian satu nahan matras, satu nahan tas, satu pake jas ujan, kita pake jas hujan minus jhon karena jhon jas ujannya di carrier-nya yang sedang di bawa Modo, dan dia bawa daypacknay Modo. Dalam kesunyian yang semakin bikin ngantuk Deni dan Zulfa inisiatif diriin tenda. Mereka berdua meluncur keatas duluan cari lapak buat buka tenda. Agak lama Deni turun lagi nyamperin kita dna ngabarin kalau tendanya udah berdiri. Kita berjalan di bawah guyuran hujan dan di atas tanah licin dan menanjak menuju tempat yang di maksud. Syukurlah kita bisa neduh juga, dnegan baju yang sedikit basah dan dalam tenda yang desak-desakan kita sempat tertidur. Hawa semakin dingin aja, kita yang dari tadi tidur dengan keadaan terduduk supaya tendanya muat jadi dempet-dempetan. Yang cowo-cowo pada nyatuin kakinya biar lebih anget, nah gue??? bertahan dalam dingin berselimut kabut Cikuray. Agak khawatir kita sama yang udah pada jalan duluan. Ujan deres banget mereka pasti kebasahan, pada neduh dimana. Tenda cuman ada tiga, duanya ada di tim kita satu dibawa Deni, satu dibawa Ucul dan satu lagi dibawa Firman. Kasian sama tim dua yang gak ada tenda. Kita mau coba masak air buat bikin air jahe tapi yang bawa gasnya si Modo. 
Hujan mulai reda, Deni mencoba mencari kawan yang mungkin masih bisa di gapai. Dan ternyata mereka belum terlalu jauh. Mereka turun lagi ke tempat kita diriin tenda, dan mereka kebasahan. Kasian banget, beberapa gak bawa jas hujan dan gak sempet pake jas hujan. Diskusi dan akhirnya kita putusin turun lagi ke POS dua dan diriin tenda di sana. Dan berencana gak muncak, besok pagi kita turun. Kecewa gue. Akhirnya ba'da Isya kita masuk tenda dengan hujan rintik-rintik di luar bikin tidur nyenyak banget. Subuh kita bangun mulai masak-masak. Saat masak-masak mulai banyak pendaki yang baru nanjak.
"Permisi kaaangg..." Ciri khas tegur-sapa para pendaki.
"Yoo kang, ati-ati..." jawab beberapa dari kita.
Semakin lama semakin banyak aja yang nanjak gak cowok gak cewek. Dan akhirnya kita panas juga.
"Lanjut nanjak yuk." Ridho ngusulin.
Dan gue serta beberapa teman lainnya mengiyakan dengan suka cita. Anto, Zulfa, dan Banteng memutuskan tidak ikut muncak dan memilih menunggu tenda karena mereka tidak membawa jas hujan takut nanti kena hujan lagi. Oke kita berduabelas mulai menanjak dengan tidak membawa apa-apa. Eh bawa deng air dan jas ujan yang kita titipkan di Deni.. hahaha.
Cikuray tu bener-bener ya, tanjakannya gak ada ampun. Gak bawa beban aja capeknya begini gimana kalo bawa berat. Akar melintang sana sini, Tanjakan curam di depan mata, ajibb deh.
Di POS tiga kita ketemu sama aa-aa entah dari mana lagi istirahat berdua sambil nyetel lagu, dari hape. Bakti request "A Cita Citata dong, Sakitnya tuh di sini." . Ehh si aanya sarap juga di iyain "Ada-ada. Bentar yaa..." dan Jreng jreng di POS tiga Cikuray Cita citata pun bernyanyi. Bakti dan Indra joget striptis bareng pohon-pohon, dan Jhon yang break dance di sana. Sisanya ketawa terbahak-bahak ngeliat mereka. Hahahaha punya temen konyol banget gitu.
Si aa tadi pun jalan duluan, di ikuti kita di belakangnya. dan saya lupa kita terpisah dimana. Kita jalan lagi terus dan tau-tau sudah sampai POS lima, POS empatnya kita gak ngeh. Di POS lima kita kecapean pake banget. Kita duduk di tanah lapang di sana. Lagi asik-asik bercengkrama tiba-tiba kita terkejut bersama.

"BANTENG..."

Manusia yang dipanggil Banteng ini tiba-tiba muncul. Sarap kan, dia nanjak sendirian dan cuman bawa air minum 600ml. Gue yang emang belum kenal banget kan ya, jadi dengerin aja temen-temen lainnya ngatain dia gila. Dari POS 6 ke POS tujuh treknya makin ancur aja, ada Pohon rubuh segala, gak cuman satu lagi. Lagi-lagi kita Istirahat, dan Songong banget Banteng yang baru dateng ninggalain kita. 
Perlahan tapi pasti kita terus berjalan sampe akhirnya denger suara Ucul sama Firman yang teriak-teriak dari puncak. Kita jadi semangat untuk sampe ke puncak. Tapi kenapa gak sampe-sampe ya Allohhh.... Tapi dengan ketekunan dan kesabaran akhirnya puncak pun terinjak. Alhamdulillah.
Pengalaman menanjak gunung pertamaku dan 'Muncak'. Takjub, Terharu, Speechless, Percaya gak Percaya. Susah di ungkapin. Meskipun gak ketemu Sunrise di puncak, Meskipun gak liat awan di bawah kaki, Meskipun gak seindah gambar-gambar di blog orang-orang, tapi ini emejing banget. Hummm Bahagianya tuuuu emmm pengen ngeluarin air mata tapi dia sampe gak sanggup keluar.




Satu jam kita di puncak, dan kita bermaksud kembali lagi ke tenda. Baru juga kita sampe POS enam, rintik-rintik hujan mulai turun. Gaspol kita turun biar gak kena ujan, soalnya kan ada yang gak bawa jas ujan. Tapi apalah daya, seusaha apapun kita kehendak Tuhanlah yang pasti.
Dresssss, lewat POS enam sedikit ujan pun turun dengan gembiranya, kita pada buru-buru pake jas ujan. Ridho lari duluan karena gak pake jas ujan, jas ujannya di kasihin ke Banteng. Gara-gara ujan jalan turun jadi seru, jadi sering kepeleset dan ngetewain temen yang kepeleset dengan ketidakelitannya. Hahahaha... Serulah pokoknya. Dan sampe juga kita ke POS dua tempat tenda kita berdiri. Untung ada temen yang tinggal jadi pas turun kita udah ada yang masakin.. yeayyy. Tapi masakannya.. emmm ya gak bisa terlupakanlah pokoknya. Nasi setengah mateng di campur sarden mentah tu.. emmmm.




 Selesai makan kita bongkar tenda dan mulai turun kemudian pulang... Waahhh cepet banget padahal masih penegn ngecamp lagi. Jam 6 sore lebih kita mulai turun perkelompok. kelompok gue tinggal bertiga, Gue, Bakti dan Deni. Kita kelamaan benahin tendanya. Turun awalnya aman, eh ujan lagi ajah. Jadilah kita jalan kaya di aliran sungai deres banget. Ngeliat yang jatuh tersungkur, Guling-guling, bahkan jungkirbalik jadi biasa.. hahaha. Dan selepas Isya kita hampir sampai ke POS satu. Tiba-tiba di teriakin dari bawah...

"Jangan jalan licin-licin. Duduk aja. Nyrosot. Yang cewek bedrdua jagain jagain."

Yang diatas tinggal gue, Deni, Bakti, Jhon, dan Ridho. Cewek yang di maksud pasti gue, pasti gue.. huhhh gender banget. Tapi pahamlah mereka kan cowok ya kalo gak peduli ke gue berarti mereka gak gentle dong.. hahaha. Akhirnya gue sam Bakti nyerosot duluan dengan di bawah ada si Banteng yang siap nahan laju nyerosot kita. Gue sama bakti jadi kaya naik motor boncengan gitu.
"Ati-ati ya usahain ke kiri, soalnya di kanan jurang."Si Banteng teriak begitu.
Ahhh paniklah gue, keinget mamah yang gak ngasih ijin. Cuman berdoa dan pegangan sama Bakti yang kuat. Belom nyampe si Banteng, si Bakti malah berenti nyerosotnya dan gue kelepas dari dia kepental ke kanan untung dia bisa narik tas gue. Dag dig dug derrr jantung gue. Akhirnya gue liatin jalann kebawah.
"Oke so, gue kayaknya bis asendiri. Kalo tetep berdua bahaya kayaknya bisa kejadian lagi lo tiba-tiba brenti dan gue masih ngegas."
"Serius lu mba."
Dengan keyakinan penuh gue ngangguk. Dan teriak ke si Banteng "Woyy tangkep gue yaaa..". Dan gue pun nyerosot sambil teriak-teriak tapi gak inget neriakin apa... hahaha. Akhirnya gue berhasil turun juga. Gue kira udah aman tau-taunya masih turunan dengan tanah halus licin, jalan tu harus miring. Lagi pusing nyari jalan, tiba-tiba gue di tubruk sama Banteng, Bakti dan Deni dan Jhon dari belakang jadi gue jatoh dan nyerosot lagi ke bawah dengan kecepatan tinggi dan lagi-lagi gue teriak-teriak tapi lupa teriak apaan. Jantung gue kembali lagi dag dig dug derrr..... Pas berhenti gue langsung bangun ngeliat apa gerangan yang nubruk gue. Gue liat si Bakti tangannya kesakitan, gue malah ketawa sambil minggir turun... Hahahaha Seru sih udah lama gak main kotor-kotoran gitu. Ridho jalan santai lewat bibir jurang, songong kan. Terus kita istirahat di warung yang ada di situ, kalap makan gorengan dan teh anget sampe bergelas-gelas. Hahhaha. Alhamdulillah kita semua selamat dan bis akembali pulang. Dari POS satu kita carter mobil bak lagi tapi kali ini lebih mahal jadi Rp 400.000,-. Jam 12 malam kita di terminal Garut, kita tidur di sana dan pagi-pagi jam 4 kita dapet bus pulang, lupa nama bus dan tarifnya. hehe

Ini pengalaman pertama gue mendaki. Gak bakal gue lupain.
Mana pengalaman lo..??? :-) 







Minggu, 24 Mei 2015

Apalah aku, Cikuray

Hei kau pemuja Merbabu
Aku mencintaimu
Setiap jejak yang kau ukir
Setiap lelah yang kau capai
Aku mencintaimu


Namun apalah aku
Hanya sebuah Cikuray
Yang sama tiap tapaknya
Hanya pohon dan tanah gembur
Tanjakanku tiada ampun
Akar melintang tiap treknya
Udara lembab yang kau hirup
Dan indah kala di puncak
Hamparan awan
Yang bersedia terletak dibawan kakimu
Setelah itu??
Kembali lagi sama dan membosankan


Berbeda dengan dia
Dia Merbabumu
Yang tampak indah tiap incinya
Tiap tapak kau pijak
Keindahan Merbabu kau dapat
Bermacam keindahan kau lihat
Hutan mati
Trek tanah dan berbatu
Tanjakan curam
Bermacam tipe hutan
Udara sejuk dan hangat
Padang Edelweiss
Kumpulan awan di depan mata


Namun apalah aku
Hanya sebuah Cikuray
Menyembunyikan kagumku
Padamu pemuja Merbabu
Biarkan tiap trek
Mengingatkan aku padamu
Meski tak seindah Merbabu
Setidaknya Puncakku satu
Dan itu abadi untukmu

Anisah Rismania

Bekasi, 25-05-15

Selasa, 05 Mei 2015

PANGANDARAN, CITUMANG, dan PASIR PUTIH CAGAR ALAM

Minggu lalu gue sama temen-temen ngumpul gue (Sanggong Caur) main ke pangandaran. Rencana awal kita mau jalan-jalan hemat, maklum kita kan kere. Jadilah kita berangkat dari Cikarang jam 9.30 malam menggunakan mobil pribadi. Kita bertujuh menuju Pangandaran dengan riang gembira, membayangkan ngemping di pinggir pantai, Mantappp. Tujuh jam pas akhirnya kita sampai di pangandaran. Dengan bermodalkan boss Bakti yang udah pernah ke sini sebelumnya, akhirnya kita ikutin saran dia. setelah melewati tugu yang mendakan kita sudah masuk wilayah Pantai Pangandaran  dan membayar tiket masuk sebesar Rp 35.000, kita belok ke kanan. Jam 4.30 masih gelap boss di sana. Sudah lumayan jauh sampai akhirnya boss Bakti bilang "Den, belok kiri den. kita camp di sini aja sepi tempatnya.". Emang bener sepi broo, sepiiiii banget gak ada apa-apa kecuali pohon kelapa sama rumput yang bergoyang. Suara ombak terdengar jelas, pantai sudah terlihat. Dengan semangat 45 Deni langsung masuk ke lahan kosong di sebelah kiri yang di batasi tembok yang tingginya se pinggang orang dewasa. Mobil berhenti, kita turun sejenak menghirup udara pagi di pantai Pangandaran. Kemudian kita cari lapak untuk bangun tenda, setelah dapat kita bermaksud menggeser mobil ke tempat itu, But shitt... "Kayaknya mobil selip boss" Deni dengan datarnya berkata demikian. Gue dan yang lain turun bermaksud ngecek, dan Yesss beneran selip. gak sadar kita ternyata udah di daerah pasir, dan mobil kita tenggelam cukup dalam. Sedihhh brooo, dalem loh gak ngerti harus gimana, dongkrak aja nyelem. Ahhhh terlalu fokus sama selip, solat subuh pun tertinggal, Gak berkah banget sumpah.
Tapiiii Tuhan emang baik ya broo, kita lalai tapi masih di kasih bantuan. Malu banget *mewek. Atas bantuan bapak-bapak tukang warung yang di utus Alloh SWT untuk nolong kita akhirnya di jam 6.00 pagi itu mobil kita berhasil di selamatkan. Dan kita diriin tenda di tempat strategis banget, tanah datar,banyak rumput, dekat pantai dan dekat dengan warung bapak-bapak baik hati tadi. Selesai diriin tenda kita lari-lari di pinggir pantai, sepi banget beneran udah kaya nyewa pulau kita.



gambar tersebut di atas di ambil dari tempat kita nenda. Sepi kaannn
Tenang banget broo, Tapi sayang agak mendung jadi sampai dengan jam 7 matahari belum juga muncul. Mulai terasa capek lari-lari di pinggir pantai yang ombaknya aduhai, kita sarapan nasi kuning ibu-ibu yang nyamperin tenda kita. Harganya Rp 3.000 tapi rasanya boss mantap.


Kisaran jam 8 kita cuss ke Citumang. Gue si yang ngusulin dan gue si yang ngerengek minta ke sana, gue pengen berenang, soalnya di pantai kan main air doang gak puas. Sekita 30 menit kita sampai ke Citumang, Tulisannya gede banget di pinggir jalan jadi gak mungkin gak sampe kalo jalurnya bener. lewat gang situ langsung ada pemandu yang standby buat nganterin kita ke TKP. Pas sampe kita di bawa ke pos dulu, di jelasin ini onoh ini onoh kucrut. Bayar Rp 75.000 udah oke, perlengkapan body rafting lengkap plus pemandu. Kalo mau lebih komplit ada Rp 100.000 tambahan makan siang ayam bakar lesehan. Tapi kan rombongan gue kere jadi ambil yang Rp 75.000 aja.
Oia di Citumang ada 2 agen yang buka body rafting, gue saranin kalau mau ke sana pake jasa yang di parkir 1 aja ini resmi udah ada lesensi dari pemerintah setempat, jadi kalau ada apa-apa bisa di ganti rugi.
Oke jalan lumayan menuju TKP, sekalian ngelatih kaki buat nanti rafting yaaa... akhirnya kita sampai di sungai indah nan aduhai itu. Kamera di pegang sama pemandu jadi foto-foto yang ambil abang pemandunya. Spot pertama kita udah di tantang aja sama Citumang. Baru juga nyebur broo tepat di depan gua Citumang, kita di hadapin sama Tebing yang tingginya 7 meter manja. Ini kepala bahkan belom basah broo. "Ayo kali ada yang mau nyobain lompat. ini tingginya cuman 7 meter aja kok. kedalaman air di bawahnya 6 meter. jadi Insha Alloh aman lah. kalau gak aman ya palingan nanti pincang-pincang dikit." . What the... Heiii 7 meter pake doang? dan keamanannya masih Insha Alloh. gigi lu tinggal satu. Shock denger penjelasan tapi entah kenapa tangan ini dorong-dorong si Deni buat kita jadiin tumbal. Akhirnya dia naik juga lewat akar-akar pohon yang udah kesiram air, bayangan gue itu licin. Tapi dia sampai di atas dengan selamat.
"Kang kalau udah sampe atas terus gak berani gimana? turun lagi bisa?" gue nanya dengan serius.
"Kalau udah di atas, satu-satunya cara turun ya terjun, kalau gak berani ya berarti terpaksa..."
"Apaan?" gue penasaran.
"Di tendang pantatnya sama pemandu yang di atas itu." Gue shock, nelen ludah. Pengen pulang.
 "Ayoo foto dulu bang buat kenang-kenangan, takutnya nanti gak bisa lagi" Lagi-lagi si kang Jajang guide kita mengeluarkan kata-kata ngedropin nyali. Dan Deni berpose dengan seadanya.
Dan... BYUUURRRR.
Broo, dia lompat. Alamak serius itu tadi dia lompat. Gue tungguin palanya nongol. Dan nongol broo sambil teriak "Whuhuuuu asik boss". Dan sialan kata-kata itu seperti nantangin gue. "Ahhh gue mau ah." Panji siap nyebur menuju akar pohon. Dengan segera gue cegah, "Gue duluan.". Asemm sok berani banget gue. Oh damn, gue mulai memanjat akar-akar pohon dan sampai juga gue di atas tebing berketinggian 7 meter manja itu. Gue pose 2 kali, Belagu banget. Gue mundur siap-siap lompat, sampai di pinggiran tebing gue ngerem, duduk... "Gak maooo... Tinggi bangett." Sumprit gue langsung kebelet pipis, Tinggi banget boss. Terus gue di sorakin dari bawah, Di semangatin juga tapi sebenernya gak ngaruh, gue tetep takut. Usaha kedua dengan bacaan Basmallah yang gue hempaskan dengan sungguh, gue mundur lagi siap-siap terjun, Maju pas sampai pinggir tebing gue ngerem lagi, lutut gue lemes. "Bangg gue mau turun ajaa..." Gue ngerengek ke pemandu yang di atas. Sejurus kemudian gue inget kata-kata kang Jajang. Terus gue liat pemandu yang di belakng gue dari posisinya senderan ke tebing mulai tegap dan hendak berjalan ke gue sambil senyum. Gue males pantat gue di tendang, yaudah gue lompat.... Gue merasakan hembusan angin yang kencang, dingin. Gue ngerasa udah lama gue melayang kok gak nyentuh-nyentuh air. "Ya Alloh masa iya Anis udah wassalam. Manaan tadi gak solat subuh, yahhh Masuk neraka dah ini mah. Tadi jatohnya kemana gitu. apa kehantuk batu?". Sumpah di tengah terjun gue berpikiran begitu, gue kira gue tewas broo. Buka mata putih semua gitu, jantung gue gak gue rasain, gue ngelirik ke bawah... Byuurrrr. Airr aahh Airrr, Alhamdulillah gue mendarat, sempurna? gak sempurna-sempurna banget si, pantat gue sakit. Tapi gue pastiin bukan karena di tendang pemandu, bukan. Selanjutnya Panji dan Linda yang mencoba ketinggian 7 meter manja itu. Dari 7 orang anggota 4 orang berhasil mencoba terjum 7 meter manja itu, Alhamdulillah SELAMATT dan Nagihhh bosss.




Selesai dari situ kita pindah wahana, air terjun ketinggian 5 meter ajah. Setelah nyobain 7 meter, 5 meter gak ada apa-apanya.. huhhh kecil. Kita semua terjun dengan bahagia, airnya biru ijo gitu, cucok deh pokoknya. Karena air alami ya, keminum juga gak bikin muntah broo malah nagih enak kaya minum air es. Kita main uler-uleran khas body rafting dimanapun. Lompatan selanjutnya air terjun 3 meter, uhhh semakin gak ada apa-apanya. Byuurrr aja semua rame-rame, cucok lah. Terus ada tali yang di gantung di pohon. Jadi kaya game-game yang suka kita liat di tipi deh, gak sabar gue buat nyoba, kayaknya gampang. Seperti biasa kalau ada wahana mengerikan kita persilahkan Deni untuk nyobain duluan a.k.a tumbal. Kedua gue, gue pegang tu tali gede banget siap-siap berayun. Mundur dan tyuuuungByuuurrr.... Rese tangan gue licin banget belum jauh dari tempat berayun gue udah jatoh. Ternyata sulit juga, humm. Tapi adik gue bisa dan dapet foto indah, double rese. Terus kita lanjut lagi main uler-uleran, perlahan kita turun ke air yang lebih tenang dengan kedalam 10 meter kata abangnya. Tenang banget dan biru banget. Di liat dari atas gue jamin Cantik banget, tapi untuk berenang di sini gue cukup dag dig dug boss. Gue takut ada buaya (konon kan Citumang berasal dari nama buaya buntung yang jadi penghuni goa di sana kan si Tumang), atau bisa jadi ada Ular Anaconda atau kawan-kawannya, atau bisa aja di dalem sana ada piranha, atau bahkan Hiu. Oh god, that's so crazy for me. Gue fobia air tenang dan keruh boss, takut banget sumpeee. Tapi lama-lama asik juga gue berenang mengikuti irama alam. lumayan jauh juga sampai akhirnya kita stop di pintu air. Kita naik dan kemudian masuk ke selokan. Yupz selokan dengan air yang jernih dan pinggir-pinggirnya ada ribuan anak kepiting di dinding-dindingnya. Kita main uler-uleran di selokan dan selesai sudah perjalan menelusuri sungai Citumang. Puassss dan pengen balik Lagi.




Pulang dari Citumang kita balik lagi ke pangandaran, secara kita emang nenda di sana. Jam 11.45 kita sampai di rumah makan di pinggir pantai, Jejeran cafe pake bilik-bilik gitu, kita pesen makan siang. Temen-temen pesen nasi goreng pangandaran dan ayam bakar pangandaran, Gue sama adik gue emang hobi seafood pesen 2 jenis masakan cumi (Tiram dan Tepung) + cah kangkung. Penyajiannya? Lamaaaaa banget boss, udah di tinggal solat, tidur-tidur ayam, jajan cilok masih belum tersaji. Dan akhirnya 1 jam lebih 10 menit tu pesenan baru dateng. Porsinya? Jumbooo bosss. Gila banyak banget, gue langsung drop liatnya. "Njirr, gue pesen 2 cumi and cah kangkung lagi. berapaan ya.". Gue makan enak gak enak boss, Rasanya enak, Porsinya nampol, Cuminya seger tapi gue kepikiran bayarnya booosss... hadeuh. Selesai makan leha-leha bentar, dengan hati-hati kita minta bon. Taaraaa harga pun terpampang, Gue tersenyum puas. Cumi dengan porsi jumbo harganya cuman Rp 35.000 /porsi, Nasi goreng dan ayam bakar porsi jumbo Rp 15.000/porsi, dan cah kangkung porsi sepiring raja cuman Rp 8.500. Bahagiaaaaa.

Selesai santap siang kita cuss lagi menuju pantai pasir putih dan cagar alam di Pangandaran. Kita sewa perahu per orang Rp 7.500 ke pasir putih. Pas udah mau sampai kita di berentiin di tengah-tengah jadi pantai pasir putih cuman keliatan dari kejauhan. Si abang perahu nawarin muter-muter bentar ke perbatasan Australia, ngeliat batu kodok kawin, patung jempol yang kalo di deketin dia ilang, ke tempat penangkaran kura-kura. Dengan ke norak-an kita, kita berharap bisa melihat pulau Australia. Cusss kita setuju dengan sewa perahu Rp 300.000 kita muterin pantai pangandaran di tengah ombak yang menggila. Kemahlan itu boss, kalau mau Rp 200.00 aja. Begonya kita menantang maut, padahal ibu warung tadi udah bilang kalau sekarang ombaknya lagi ganas, kita malah main ke tengah coba. Musim panas justru ombaknya menggila boss... Tinggi banget, dan kita cuman naik perahu kayu, gak pake pelampung. Pea pake banget. Tapi seru. Seru teriak-teriakannya, seremnya, cipratan airnya, lompatan-lompatan perahunya, nerjang ombaknya... Bisa menapaki pasir lagi adalah Nikmat yang luar biasa. Setelah gila di sana akhirnya kita mencapai pantai pasir putih dan memilih berjalan pulang lewat Hutan (Cagar alam). Banyak monyet ekor panjang yang besar-besar di sana, ada Rusa, ada Nyamang, ada Pohon-pohon tinggi, ada goa-goa. Baru tau ternyata di sana banyak goa. Dan ada goa Jepang. kebetulan gue suka sejarah jadi gue tertarik banget mengunjungi goa-goa tersebut. Di sana ada pemandu juga untuk menyambangi goa-goa dan tempat-tempat indah di dalam sana, Rp 150.000. Tapi kita gak ada yang bawa dompet, karena pas tadi mau mulai perjalanan ke cagar alam ini di himbau untuk gak usah bawa apa-apa karena takut di ambil sama monyet-monyet liar. Dan bener aja, di hari itu ada turis entah asalnya dari mana, tas Tabnya di ambil sama monyet itu, Tabnya seharga dua juta dan ada uang cash juga.
Jadi dengan ketidak punyaan kita, kita nyewa senter aja ke bapak itu, satu senter Rp 10.000 . Kita masuk goa jepang, masih alami banget, bau amis darah masih santer tercium. Di ceritain sejarah goa itu. Gue nangis bosss,,, soalnya selain di ceritaiin kejadiannya gak sengaja gue ngeliat korbannya juga, Jepang tu jahat banget. Hikz hikz.
Hari semakin sore gak pengen kejebak malem di hutan kita cuss menuju pintu keluar, dan udah di gembok. Akhirnya kita manjat, keluar pintu itu kita di sambut sama puluhan monyet ekor panjang yang gede-gede, entah makan apa bisa gede gitu.
Dengan takut-takut, akhirnya kita bisa melewati mereka. Lanjut kita menuju tenda tercintah. Bergantian mandi dan jaga tenda. Kaki kerasa banget capeknya, abis renang 2 jam non stop, terayun-ayun di laut lepas, dan trekking di cagar alam Pangandaran. Rebahannn bosss.
Makan malam kita masak makanan yang emang udah kita bawa dari rumah. Selepas isya temen-temen pada tidur, tinggal gue sama Deni yang jaga udah kaya orang pacaran aja dua-duaan di pinggir pantai. Kita gak bisa tidur boss, soalnya tadi di bilangin kalau bisa jangan tidur semua takut ada apa-apa. Takut aja kita ada orang mabok ke situ, secara tempat kita gelap dan sepi banget kan, kalo ada apa-apa belum tentu ada yang nolongin. Akhirnya kita berdua bakar-bakar apa aja yang bisa di bakar, mulai dari sosis, bakso, sampe sampah juga kita bakar. Sekitar jam 9 ada rombongan touring entah dari mana, dan mereka juga mendirikan tenda agak jauh di kiri kita. Amaannn, gue sama Deni memutuskan untuk tidur. Kemudian kita terbangun di jam 4.30 karena adzan subuh, gile subuhannya pagi banget di sini. Keluar tenda cantikkkk banget bosss, semalem gak ada bintang tapi subuh ini bintang beribu-ribu ada di langit berkelap-kelip. Debur ombak memecah keheningan subuh itu, buih-buih ombak yang tinggi, dingin yang nyaman. Subhanlloh, Subuh yang indah. Selesai subuhan gue langsung main ke pantai, dan sekali lagi Pantaiii milik sendiri. Ombak di sisi kanan pangandaran ini jauh lebih tinggi daripada yang sisi kiri, makanya di sini sepi. Puas bermain jam 9 kita bersiap kembali ke Cikarang. See U Again Pangandaran, Indahmu dan Mistikmu semoga Lestari.